Evaluasi Uji Cepat RE Nasional: Dorong Swasembada Pangan Melalui Inovasi Metode Uji Mutu Benih
Tapos, 26 Mei 2025 – Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (Balai Besar PPMBTPH) melaksanakan evaluasi dan refreshment penerapan uji cepat Radicle Emergence (RE) secara daring melalui Zoom Meeting, yang diikuti oleh 33 laboratorium BPSB di seluruh Indonesia.
Kegiatan ini menjadi bagian strategis dalam mendukung program swasembada pangan nasional, terutama melalui percepatan pengujian mutu benih bantuan pemerintah. Kepala Balai Besar PPMBTPH menegaskan bahwa ketersediaan benih bermutu tinggi merupakan kunci utama dalam mencapai target swasembada pangan, selaras dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Metode RE menjadi inovasi penting untuk memastikan ketersediaan benih bermutu dengan cepat dan akurat. "Benih bantuan pemerintah yang akan segera disalurkan kepada petani harus diuji dengan cepat dan tepat. Ketepatan waktu adalah kunci keberhasilan dalam memastikan benih memiliki vigor tinggi sesuai jadwal tanam," ujar Kepala Balai Besar PPMBTPH.
Keunggulan Radicle Emergence (RE) terletak pada kemampuannya mendeteksi mutu benih hanya dalam 2–3 hari, jauh lebih cepat dibandingkan metode konvensional pengujian daya berkecambah yang membutuhkan 7–14 hari.
Metode RE telah ditetapkan secara resmi melalui SK Dirjen Tanaman Pangan Nomor 147/HK.310/C/7/2022, yang menyebutkan bahwa pengujian daya berkecambah dapat dipercepat dengan uji RE sesuai dengan SOP pengecekan mutu benih bantuan pemerintah.
Saat ini, metode RE telah digunakan pada komoditas utama pangan nasional, seperti padi, jagung, kedelai, dan sorgum, serta diterapkan secara luas di 33 laboratorium BPSB di seluruh provinsi.
“Metode RE mendukung prinsip enam tepat dalam penyediaan benih: tepat jenis, varietas, mutu, jumlah, harga, dan waktu. Dengan RE, proses distribusi benih bantuan pemerintah menjadi lebih efisien dan tepat sasaran,” jelas Kepala Balai.
Melalui evaluasi ini, efektivitas penerapan metode RE ditinjau untuk semakin memperkuat koordinasi lintas laboratorium, memastikan bahwa setiap laboratorium BPSB dapat mengoptimalkan penerapan metode RE dan mendukung kemandirian benih nasional.
Pada kesempatan yang berbeda Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Yudi Sastro, menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Balai Besar PPMBTPH atas penerapan dan diseminasi metode uji RE yang kini telah diaplikasikan oleh BPSB di berbagai provinsi di Indonesia. Ia berharap inovasi ini terus dikembangkan dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pertanian nasional.
Menurut Yudi, Benih merupakan faktor kunci yang menentukan produksi dan produktivitas tanaman pangan. Untuk memastikan bahwa benih yang digunakan memiliki mutu tinggi, maka pengujian mutu benih menjadi langkah yang sangat penting.
“Selama ini, pengujian mutu benih dilakukan dengan metode konvensional yang membutuhkan waktu cukup lama, berkisar antara 7 hingga 14 hari. Kondisi ini dapat menjadi kendala dalam distribusi benih, khususnya dalam mendukung program bantuan benih pemerintah untuk mewujudkan swasembada pangan”, ungkap Yudi.
“Balai Besar PPMBTPH telah menghadirkan terobosan penting melalui inovasi metode pengujian cepat yang dikenal sebagai Radicle Emergence (RE). Metode ini mampu mempercepat proses pengujian daya berkecambah hanya dalam waktu 2 hingga 3 hari, sehingga sangat membantu mempercepat distribusi benih bermutu ke seluruh wilayah Indonesia”, tutup Yudi.